Woooooww!! kreativitas yang over bgt...........dan rasanya pun melebihi enaknya DAGING SAPI.
Mitsuyuki Ikeda, ilmuwan asal Okayama Laboratory yakin bahwa banyak
protein bagus di dalam kotoran manusia yang bisa dimanfaatkan. Untuk
itu, ia mencari cara untuk mengekstraknya, mencampurnya dengan saus
steak, dan berhasil membuat kotoran itu menjadi makanan.
Orang mungkin bertanya-tanya apa alasannya melakukan hal itu. Tetapi
ternyata, alasan utamanya adalah permintaan dari pemerintah Tokyo
sendiri.
Sebagai informasi, Tokyo saat ini kewalahan dengan lumpur selokan
bawah tanah, dan satu-satunya cara untuk mengatasinya selain dengan
membuang ke laut adalah dengan memakan ‘kotoran-kotoran’ tersebut.
Saat diteliti, Ikeda mendapati bahwa lumpur itu penuh dengan protein
karena banyaknya konten bakteria di sana. Setelah dikombinasikan
dengan peningkat reaksi dan menempatkannya di mesin ajaib yang disebut
‘exploder’, akhirnya steak buatan berhasil dibuat.
Lumpur kotoran itu mengandung 63 persen protein, 25 persen
karbohidrat, 3 persen vitamin yang larut dalam lemak, serta 9 persen
mineral. Adapun steak buatan yang dihasilkan pun warnanya juga merah,
jadi konsumen tidak akan mengetahui bahwa yang akan ia makan merupakan
tinja olahan.
Dari uji pertama, orang-orang yang sudah mencobanya menyebutkan, rasanya seperti daging sapi. cara ini merupakan solusi sempurna untuk mengurangi jumlah limbah dan
emisi dari perut. Namun sayangnya, masih ada kekurangan dari solusi
yang ditawarkan Ikeda. Biaya untuk memproduksi ‘Daging’ buatan itu 10
sampai 20 kali lebih mahal dibandingkan dengan harga daging sapi
sungguhan.
After school
Walking home
Fresh dirt under my fingernails
And I can smell hot asphalt
Cars screech to a halt to let me pass
And I cannot remember
What life was like through photographs
Trying to recreate images life gives us from our past
And sometimes it’s a sad song
But I cannot forget
Refuse to regret
So glad I met you
Take my breath away
Make everyday
Worth all of the pain that I have
Gone through
And mama I’ve been cryin’
Cause things ain’t how they used to be
She said the battles almost won
And we’re only several miles from the sun
Moving on down my street
I see people I won’t ever meet
Think of her, take a breath
Feel the beat in the rhythm of my steps
And sometimes it’s a sad song
But I cannot forget
Refuse to regret
So glad I met you
Take my breath away
Make everyday
Worth all of the pain that I have
Gone through
And mama I’ve been cryin’
Cause things ain’t how they used to be
She said the battles almost won
And we’re only several miles from the sun
The rhythm of her conversation
The perfection of her creation
The sex she slipped into my coffee
The way she felt when she first saw me
Hate to love and love to hate her
Like a broken record player
Back and forth and here and gone
And on and on and on and on
But I cannot forget
Refuse to regret
So glad I met you
Take my breath away
Make everyday
Worth all of the pain that I have
Gone through
And mama I’ve been cryin’
Cause things ain’t how they used to be
She said the battles almost won
And we’re only several miles…
She said the battles almost won
And we’re only several miles from the sun
ada cerita di pulau sembilan............................pulau ini adalah kunjungan saya di semester 3, sungguh menyenangkan tapi mengecewakan... kenapa???
minusnya kebijakan lembaga DPRD dan Pemkab Langkat menyebabkan
oknum-oknum tidak bertanggung jawab semakin leluasa merambah dan
mengalih fu8ngsikan lahan Pulau Sembilan. Makanya, untuk aksi liar itu
pihaknya minta ketegasan Pemkab Langkat dan Polri menyikapi secara tegas
atas pelanggaran hukum dan perusakan hutan mangrove dan lainnya .Ratusan hektar hutan mangrove di Pulau Sembilan, Kecamatan Pangkalan
Susu, Kabupaten Langkat dikabarkan telah dialihkan fungsinya menjadi
ladang sawit.Saya melihat kerusakan hutan mangrove di Pangkalan Susu khususnya di Pulau Sembilan sudah semakin parah.terdapat 400 hektare lahan mangrove (bakau) yang telah dialihkan menjadi lahan sawit di Pulau Sembilan.Bila tidak secepatnya diselamatkan dikhawatirkan Pulau Sembilan akan `tenggelam` seperti Tapak Kuda Lama di Tanjungpura.
PENGGUNAAN SISTEM INFORMASI PADA
BIDANG PERIKANAN DAN KELAUTAN
Oleh
:
Charolina
Kaban
110302057
SISTEM INFORMASI SUMBERDAYA PERAIRAN
MANAJEMEN
SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
2013
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur
Penulis sampaikan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan
karuniaNya Penulis dapat menyelesaikan paper Sistem Informasi Geografi yang
berjudul “Penggunaan Sistem Informasi
Dalam Perikana Dan Kelautan. Paper ini dibuat untuk membahas tentangsistem informasi dalam perikanan
dan kelautan.
Penulis
juga menyampaikan terima kasih kepada bapakRusdi Leidonald SP, M.Sc dan Zulham Apandi Harahap S.Pi, M.Pi selaku
dosen penanggung jawab Mata Kuliah Sistem Informasi Sumberdaya Perairan. Ucapan terima kasih
juga Penulis
sampaikan kepada rekan-rekan mahasiswa yang telah banyak memberikan masukan
untuk paper ini.
Demikianlah paper ini
dibuat dan semoga bermanfaat. Terima kasih.
Medan,
Maret 2013
Penulis
DAFTAR
ISI
DAFTAR ISI
LEMBAR
PENGESAHAN.............................................................................
i
KATA
PENGANTAR.....................................................................................
ii
DAFTAR
ISI..................................................................................................... iii
Sistem
Informasi Geografi (SIG) merupakan salah satu produk ilmu komputer yang paling
mutahir saat ini. Pengertian tentang SIG itu sangat beragam. Hal ini sejalan
dengan perkembangan SIG itu sendiri sejak pertama kali SIG dikembangkan oleh
Tomlinson tahun 1967. Murray (1999) mengertikan SIG sebagai sistem informasi
yang digunakan untuk memasukkan, menyimpan, memanggil kembali, mengolah,
menganalisis dan menghasilkan data berefrensi geografis atau data geospital,
untuk mendukung pengambilan keputusan dalam perencanaan dan pengolaan
penggunaan lahan, sumber daya alam, lingkungan, transportasi, fasilitas kota,
dan pelayanan umum lainnya (Budiyanto, 2002).
Geographic Information System (GIS) atau Sistem Informasi
Geografis (SIG) sebagai suatu sistem yang berorientasi operasi secara
manual, yang berkaitan dengan operasi pengumpulan, penyimpanan
dan manipulasi data yang bereferensi geografi secara konvensional
(Aini, 2007).
Sistem informasi
adalah sekumpulan komponen yang saling berhubungan yang mengumpulkan, mengolah,
menyimpan, dan menyeberkan informasi untuk pengambilan keputusan, koordinat,
kontrol, analisis dan visualisasi dalam organisasi (Wahyuni,2009).
GIS (Geographic Information System) merupakan suatu alat yang dapat
digunakan untuk mengelola (input, manajemen, proses dan output) data spasial
atau data yang bereferensi geografis. Setiap data yang merujuk lokasi di
permukaan bumi dapat disebut sebagai data spasial bereferensi geografis.
Misalnya data kepadatan penduduk suatu daerah, data jaringan jalan, data
vegetasi dan sebagainya (Maulana,2009).
Ikan dengan mobilitasnya yang tinggi akan lebih mudah dilacak
disuatu area melalui teknologi ini karena ikan cenderung berkumpul pada kondisi
lingkungan tertentu seperti adanya peristiwa upwelling, dinamika arus
pusaran (eddy) dan daerah front gradient pertemuan dua massa air yang
berbeda baik itu salinitas, suhu atau klorofil-a. Pengetahuan dasar yang
dipakai dalam melakukan pengkajian adalah mencari hubungan antara spesies ikan
dan faktor lingkungan di sekelilingnya. Dari hasil analisa ini akan diperoleh
indikator oseanografi yang cocok untuk ikan tertentu. Sebagai contoh ikan
albacore tuna di laut utara Pasifik cenderung terkonsetrasi pada kisaran suhu
18.5-21.5oC dan berassosiasi dengan tingkat klorofil-a sekitar 0.3 mg m-3.
Selanjutnya output yang didapatkan dari indikator oseanografi yang bersesuaian
dengan distribusi dan kelimpahan ikan dipetakan dengan teknologi SIG. Data
indikator oseanografi yang cocok untuk ikan perlu diintegrasikan dengan
berbagai layer pada SIG karena ikan sangat mungkin merespon bukan hanya pada
satu parameter lingkungan saja, tapi berbagai parameter yang saling berkaitan.
Dengan kombinasi SIG, inderaja dan data lapangan akan memberikan banyak
informasi spasial misalnya dimana posisi ikan banyak tertangkap, berapa
jaraknya antara fishing base dan fishing ground yang produktif serta kapan
musim penangkapan ikan yang efektif. Tentu saja hal ini akan memberi gambaran
solusi tentang pertanyaan nelayan kapan dan dimana bias mendapatkan banyak ikan
(Zainudin,2006).
1.2
Tujuan
Tujuan
dilakukannya pembuatan aplikasi SIG dalam bidang kelautan dan perikanan :
Mengetahui
ikan di laut berada dan kapan bisa ditangkap
jumlah
yang berlimpah merupakan pertanyaan yang sangat biasa didengar.
Meminimalisir
usaha penangkapan dengan mencari daerah habitat ikan, disisi biaya BBM
yang besar, waktu dan tenaga nelayan
mengetahui
area dimana ikan bisa tertangkap dalam jumlah yang besar
1.3
Manfaat
Salah satu alternatif yang menawarkan solusi terbaik adalah
mengkombinasikan kemampuan SIG dan penginderaan jauh (inderaja) kelautan.
Dengan teknologi inderaja faktor-faktor lingkungan laut yang mempengaruhi
distribusi, migrasi dan kelimpahan ikan dapat diperoleh secara berkala, cepat dan dengan cakupa
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Sistem Informasi Geografi
SIG merupakan sebuah sistem yang saling
berangkaian satu dengan yang lain. BAKOSURTANAL menjabarkan SIG sebagai
kumpulan yang terorganisir dari perangkat keras komputer, perangkat lunak, data
geografi, dan personel yang didesain untuk memperoleh, menyimpan, memperbaiki,
memanipulasi, menganalisi, dan menampilkan semua bentuk informasi yang
berefrensi geografis. Dengan demikian, basis analisis dari SIG adalah data
spasial dalam bentuk digital yang diperoleh melalui data satelit atau data lain
terdigitasi. Analisis SIG memerlukantenaga ahli sebagai interpreter, perangkat
keras komputer, dan software pendukung (Budiyanto, 2002).
Perangkat keras yang mendukung untuk analisis geografi dan
pemetaan sebenarnya tidak jauh berbeda dengan perangkat keras lainnya yang
digunakan untuk mendukung aplikasi-aplikasi bisnis dan sains. Perbedaannya,
jika ada, terletak pada kecenderungannya yang memerlukan perangkat (tambahan)
yang dapat mendukung presentasi grafik dengan resolusi dan kecepatan yang
tinggi, dan mendukung operasi-operasi basisdata yang cepat dengan volume data
yang besar. Wyoming Geographic Information Advisory Council (WGIAC) telah
membuat standar untuk perangkat keras (hardware) SIG (Anonymous, 2008).
Secara teknis SIG mengorganisasikan dan
memanfaatkan data dari peta digital yang tersimpan dalam basis data. Dalam SIG,
dunia nyata dijabarkan dalam data peta digital yang menggambarkan posisi dari
ruang (space) dan klasifikasi, atribut data, dn hubungan antar item data.
Kerincian data dalam SIG ditentukan oleh besarnya satuan pemetaan terkecil yang
dihimpun dalam basis data. Dalam bahasa pemetan kerincian tergantung dari skala
peta dan dasar acuan geografis yang disebut sebagai peta dasar (Budiyanto, 2002).
Sedangkan struktur data SIG ada dua macam yaitu
vektor dan raster. Pada struktur data vektor posisi objek dicatat pada system
koordinat. Sedangkan objek pada raster disimpan pada grid dua dimensi yaitu
baris dan kolom. Data atribut atau tabular merupakan data yang menyimpan
informasi mengenai nilai atau besaran dari data grafis. Untuk struktur data
vektor, data atribut tersimpan secara terpisah dalam bentuk tabel. Sementara
pada struktur data raster nilai data grafisnya tersimpan langsung pada nilai grid
atau piksel (Suryadi, 2009).
2.2 Penggunaan Sistem
Informasi dalam Bidang Perikanan dan Kelautan
Kebijakan pembangunan sektor
kelautan perikanan Kabupaten Tanah Bumbu didasarkan pada pendekatan pembangunan
yang diarahkan agar mampu memainkan peranan utama dalam perbaikan perekonomian
daerah, dalam arti dapat memposisikan sebagai penggerak pembangunan ekonomi
daerah dan membudayakan masyarakat pembudidaya ikan/nelayan agar mampu mandiri
dalam melaksanakan usahanya. Yang meliputi ;
Pemberdayaan
Masyarakat dan Aparatur Kelautan dan Perikanan
Pengembangan
Teknologi Budidaya Perikanan, Teknologi Penangkapan Ikan dan Teknologi
Pengolahan Hasil Perikanan.
Peningkatan
Pengawasan dan Pengendalian terhadap Pemanfaatan Sumberdaya Kelautan dan
Perikanan.
Peningkatan
dan Pengembangan.Sarana dan Prasaran Kelautan dan Perikanan.
Adapun strategi yang dilakukan adalah sebagai berikut
:
1.
Meningkatkan Kemampuan SDM Kelautan Perikanan
Pengembangan sumberdaya manusia pada
sektor perikanan dan kelautan ditujukan tidak saja kepada pembudidaya
ikan/nelayan atau masyarakat perikanan pada umumnya, tetapi juga termasuk pada
aparat-aparat pembina perikanan dan kelautan itu sendiri. Pengembangan
sumberdaya yang dilakukan, tidak hanya mencakup aspek teknis, seperti
penciptaan Iptek, manajemen atau peningkatan keterampilan dan produktivitas,
tetapi mencakup juga aspek yang lebih mendasar, yaitu peningkatan harkat,
martabat dan kepercayaan terhadap diri sendiri, kemampuan berwira swasta serta
tanggung jawab baik sebagai anggota keluarga, warga masyarakat ataupun pribadi
mandiri. Oleh karena itu pembinaan terhadap pembudiya ikan/nelayan tidak hanya
ditujukan kepada fungsi mereka sebagai faktor produksi atau tenaga kerja,
tetapi juga kepada fungsi mereka sebagai sumberdaya insani yang memerlukan
keseimbangan kesejahtraan rohani dan jasmani. Sedangkan terhadap aparat
pembina diharapkan akan tetap mau dan mampu meningkatkan pengetahuan,
keterampilan serta wawasan sesuai perkembangan yang terjadi melalui berbagai
kesempatan baik dalam negeri maupun di luar negeri.
2.
Memanfaatkan Sumberdaya Kelautan Perikanan Secara Optimal, Efisien dan
Berkelanjutan (Suistainable)
Potensi lahan kelautan dan
perikanan di Tanah Bumbu cukup besar dan berpeluang untuk dikembangkan
secara optimal tanpa mengganggu kelestariannya dengan tingkat
efektifitasmelalui usaha ekstensifikasi, identifikasi, diverifikasi dan
rehabilitasiserta dengan menggunakan teknologi tepat guna dan memberikan
prioritas utama terhadap komoditas ekonomis penting serta komoditas unggulan
yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Disamping itu usaha pemgembangan kelautan
perikanan juga memungkinkan untuk ekstensifikasi dengan mendorong kearah
penangkapan jarak jauh serta pengembangan usaha budidaya laut pada lokasi
potensial. Dalam hubungannya dengan pemanfaatan sumberdaya kelautan dan
perikanan tetap berorientasi pada pembangunan perikanan yang ramah lingkungan
serta mengutamakan kelestarian sumberdaya hayati. Selain itu juga perlu
diarahkan untuk pencapaian produktifitas yang optimal, pemanfaatan secara
rasional, peningkatan pendapatan serta pembangunan struktur usaha yang seimbang
antara usaha skala besar maupun usaha kecil.
3.
Meningkatkan Mutu Hasil Perikanan
Pembangunan kelautan dan perikanan
merupakan salah satu kegiatan yang ekonomis dan mempunyai nilai strategis dan
sangat prospektif. Hal ini mengingat kecendrungan semakin meningkatnya
permintaan dunia akan produk hasil perikanan . Sehubungan dengan meningkatnya
permintaan tersebut maka selain pencapaian target produksi, upaya
peningkatan pengawasan mutu hasil perikanan juga merupakan faktor utama dalam
meningkatkan hasil produksi. Langkah-langkah yang ditempuh oleh Dinas adalah
penanganan dan pengolahan pasca panen yang dilaksanakan oleh petani ikan sesuai
anjuran teknis serta peningkatan teknologi dan pemrosesan produk. Peningkatan
akses pasar yang tidak hanya lokal tetapi juga nasional bahkan
internasional (distribusi ekspor) sesuai dengan jenis komoditas yang diusahakan
dan diperlukan pasar.
4.
Meningkatkan Pengawasan dan Pengendalian Sumber Daya Kelautan dan Perikanan
Pemanfaatan dan pengelolaan
sumberdaya alam perlu dilaksanakan sesuai dengan peraturan pemerintah yang
berlaku. Peraturan-peraturan di bidang kelautan dan perikanan lebih mengarah
dalam upaya menjaga kelestarian sumberdaya kelautan perikanan, agar pelaksanaan
sejalan dengan peraturan yang berlaku perlu adanya pengawasan dan pengendalian
di lapangan. Dalam melaksanakan pengawasan dan pengendalian sebagai upaya
penegakan peraturan di bidang kelautan dan perikanan, perlu didahului oleh
pembinaan dan sosialisasi tentang hukum kepada pelaku usaha di bidang kelautan
dan perikanan khususnya pembudidaya ikan dan nelayan serta masyarakat pada umumnya.
Untuk lebih mengoptimalkan pengawasan, akan dilakukan pembinaan sistem
pengawasan mandiri oleh masyarakat melalui penggalangan SISWASMAS (Sistem
Pengawasan Masyarakat) dan POKWASMAS (Kelompok Pengawas Masyarakat).
5.
Merehabilitasi Ekosistem Habitat pesisir, Laut, dan Perairan Umum
Potensi lahan kelautan dan perikanan Kabupaten Tanah
Bumbu cukup besar dan berpeluang untuk dikembangkan dan dimanfaatkan secara
optimal tanpa menggangu lingkungannya dengan mengutamakan kelestarian
sumberdaya hayati. Dilakukan peningkatan rehabilitasi dan konservasi sumberdaya
kelautan dan perikanan dengan cara mangrove (pohon bakau) di wilayah pesisir
yang mengalami abrasi.
6.
Meningkatkan Pembangunan Infrastruktur Dalam Rangka Pemanfaatan Sumberdaya
Kelautan Perikanan
Dalam rangka peningkatan
pengembangan kegiatan usaha kelautan perikanan yang turut berpengaruh terhadap
pemasaran. Pembangunan infrastruktur dan rehabilitasi prasarana serta
peningkatan sarana menjadi hal yang utama dalam rangka pemanfaatan sumberdaya
kelautan perikanan.
7.
Menciptakan Lapangan Kerja Baru Di Bidang Usaha Kelautan Perikanan
Adanya pertambahan penduduk dari
tahun ke tahun akan mengakibatkan semakin sempitnya lahan pekerjaan di segala
sektor. Dan selaras dengan komitmen Kabupaten Tanah Bumbu untuk menanggulangi
penganguran maka Pembangunan Infrastruktur pada sektor Kelautan Perikanan
sangat mendukung dalam menciptakan lapangan kerja baru.
8.
Memberdayakan Sosial Ekonomi Masyarakat Kelautan dan Perikanan
Dilatarbelakangi oleh adanya
kenyataan bahwa masyarakat pesisir merupakan masyarakat yang sangat tertinggal
atau mempunyai pendapatan yang relatif rendah dan merupakan salah satu kelompok
masyarakat yang memiliki strata sosial terendah. Oleh karena itu Dana
Penguatan Modal Perikanan adalah salah satu langkah awal dalam rangka
peningkatan sosial ekonomi masyarakat kelautan perikanan.
9.
Mengembangkan dan Memperkuat Sistem Informasi Kelautan Perikanan
Pengetahuan, Penguasaan dan
Penerapan Teknologi terhadap masyarakat perikanan umumnya terbatas, oleh karena
itulah peran Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Perikanan dalam hal ini sebagai
media dalam mengembangkan dan memperkuat sistem informasi yang berguna dalam
meningkatkan pengetahuan, sikap, keterampilan, inovasi dan motivasi masyarakat
perikanan, terutama dalam rangka meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan
(Zainudin,2006).
BAB III
STUDI
KASUS
Gambar
1. Aplikasi SIG dan inderaja dalam kegiatan penangkapan ikan tuna pada bulan
November 2000 (resolusi semua layer citra = 9 Km) (Zainuddin, 2006).
Dua database (satelit dan perikanan tuna) dikombinasikan
dalam mengembangkan spasial analysis daerah penangkapan ikan tuna. Pada
prinsipnya ada 4 layer/lapisan data yang diintegrasikan yaitu suhu permukaan
laut (SST) (NOAA/AVHRR), tingkat konsentrasi klorofil (SeaWiFS), perbedaan
tinggi permukaan air laut (SSHA) dan eddy kinetik energi (EKE) (AVISO).
Parameter pertama (SST) dipakai karena berhubungan dengan kesesuaian kondisi
fisiologi ikan dan thermoregulasi untuk ikan tuna; sedangkan parameter yang
kedua karena dapat menjelaskan tingkat produktifitas perairan yang berhubungan
dengan kelimpahan makanan ikan; sementara parameter yang ketiga berhubungan
dengan kondisi sirkulasi air daerah yang subur seperti eddy dan upwelling ; dan
parameter terakhir berhubungan dengan indeks untuk melihat daerah subur dan
kekuatan arus yang mungkin mempengaruhi distribusi ikan. Data penangkapan ikan
tuna (lingkaran putih pada peta yang ditunjukkan dengan tanda panah) diplot
pada peta lingkungan yang dibangkitkan dari citra satelit. Sedangkan panel atau
layer yang paling atas menunjukkan peta prediksi hasil tangkapan.
Gambar 1 memberi informasi bahwa ikan tuna tertangkap dalam
jumlah yang besar (terkonsentrasi) pada posisi sekitar 35oLU dan 160oBT
bersesuaian dengan kondisi SST sekitar 20oC dan berassosiasi dengan tingkat
klorofil-a sekitar 0.3 mg m-3. Konsentrasi ikan tersebut berada pada posisi
positif anomaly permukaan laut (warna merah) yang bertepatan dengan kondisi EKE
yang relatif lebih tinggi. Dari Gambar itu terlihat bahwa prediksi hasil
tangkapan dengan peluang yang tinggi (dikenal dengan istilah habitat hotspot)
juga menkonfirmasi daerah produktif tersebut. Setiap spesies ikan mempunyai
karakteristik oseanografi kesukaannya sendiri dan cenderung menempati daerah
tertentu yang bisa dipelajari. Hal ini dapat diketahui dengan pendekatan SIG
dan inderaja multi-layer tersebut.
Contoh lain aplikasi SIG di selatan pulau Hokkaido, Jepang
dapat dilihat pada Gambar 2 berikut ini. Peta ini menunjukkan berbagai informasi
spasial yang bisa kita pahami tentang perikanan tangkap di sekitar pulau
tersebut, khususnya perikanan cumi-cumi. Disni peta SIG menggambarkan dimana
posisi pelabuhan perikanan (fishing port), jarak antara fishing
ground (daerah penangkapan) dan pelabuhan, distribusi hasil tangkapan,
jumlah kapal yang tersedia. Dari informasi ini dapat dilihat bahwa distribusi
musiman daerah penangkapan, hasil tangkapan dan jumlah kapal penangkap akan
menghasilkan informasi tentang jalur migrasi spesies cumi-cumi tersebut yaitu
cenderung ke utara pada bulan Juni dan kembali ke selatan pada bulan November.
Gambar
2. Peta distribusi daerah penangkapan cumi-cumi dan jumlah kapal dan hasil
tangkapannya di sekitar pulau Hokkaido, Jepang pada bulan Juni (kiri) dan November
(kanan) (Zainudin,2006).
BAB IV
KESIMPULAN
Adapun kesimpulan
dari Penggunaan Sistem Informasi pada Bidang Perikanan dan Kelautan adalah :
1.Sumber data untuk keperluan SIG
dapat berasal dari data citra, data lapangan, survey kelautan, peta, sosial
ekonomi, dan GPS. Selanjutnya diolah di laboratorium atau studio SIG dengan software
tertentu sesuai dengan kebutuhannya untuk menghasilkan produk berupa
informasi yang berguna, bisa berupa peta konvensional, maupun peta digital sesuai
keperluan user, maka harus ada input kebutuhan yang diinginkan user.
2.Pengetahuan dasar yang dipakai dalam
melakukan pengkajian adalah mencari hubungan antara spesies ikan dan faktor
lingkungan di sekelilingnya. Dari hasil analisa ini akan diperoleh indikator
oseanografi yang cocok untuk ikan tertentu.
3.Dengan kombinasi SIG, inderaja dan data lapangan akan
memberikan banyak informasi spasial misalnya dimana posisi ikan banyak
tertangkap, berapa jaraknya antara fishing base dan fishing ground yang
produktif serta kapan musim penangkapan ikan yang efektif. Tentu saja hal ini
akan memberi gambaran solusi tentang pertanyaan nelayan kapan dan dimana bias
mendapatkan banyak ikan.
DAFTAR PUSTAKA
Aini,
A. 2007. Sistem Informasi Geografi.http://www.p3m.amikom.ac.id.