Senin, 15 April 2013

JEPANG OLAH TINJA MANUSIA JADI MAKANAN

Woooooww!! kreativitas yang over bgt...........dan rasanya pun melebihi enaknya DAGING SAPI.

Mitsuyuki Ikeda, ilmuwan asal Okayama Laboratory yakin bahwa banyak protein bagus di dalam kotoran manusia yang bisa dimanfaatkan. Untuk itu, ia mencari cara untuk mengekstraknya, mencampurnya dengan saus steak, dan berhasil membuat kotoran itu menjadi makanan.
Orang mungkin bertanya-tanya apa alasannya melakukan hal itu. Tetapi ternyata, alasan utamanya adalah permintaan dari pemerintah Tokyo sendiri.
Sebagai informasi, Tokyo saat ini kewalahan dengan lumpur selokan bawah tanah, dan satu-satunya cara untuk mengatasinya selain dengan membuang ke laut adalah dengan memakan ‘kotoran-kotoran’ tersebut.
Saat diteliti, Ikeda mendapati bahwa lumpur itu penuh dengan protein karena banyaknya konten bakteria di sana. Setelah dikombinasikan dengan peningkat reaksi dan menempatkannya di mesin ajaib yang disebut ‘exploder’, akhirnya steak buatan berhasil dibuat.
Lumpur kotoran itu mengandung 63 persen protein, 25 persen karbohidrat, 3 persen vitamin yang larut dalam lemak, serta 9 persen mineral. Adapun steak buatan yang dihasilkan pun warnanya juga merah, jadi konsumen tidak akan mengetahui bahwa yang akan ia makan merupakan tinja olahan.
Dari uji pertama, orang-orang yang sudah mencobanya menyebutkan, rasanya seperti daging sapi. cara ini merupakan solusi sempurna untuk mengurangi jumlah limbah dan emisi dari perut. Namun sayangnya, masih ada kekurangan dari solusi yang ditawarkan Ikeda. Biaya untuk memproduksi ‘Daging’ buatan itu 10 sampai 20 kali lebih mahal dibandingkan dengan harga daging sapi sungguhan.

Minggu, 14 April 2013

maroon 5 THE SUN



After school
Walking home
Fresh dirt under my fingernails
And I can smell hot asphalt
Cars screech to a halt to let me pass
And I cannot remember
What life was like through photographs
Trying to recreate images life gives us from our past
And sometimes it’s a sad song
But I cannot forget
Refuse to regret
So glad I met you
Take my breath away
Make everyday
Worth all of the pain that I have
Gone through
And mama I’ve been cryin’
Cause things ain’t how they used to be
She said the battles almost won
And we’re only several miles from the sun
Moving on down my street
I see people I won’t ever meet
Think of her, take a breath
Feel the beat in the rhythm of my steps
And sometimes it’s a sad song
But I cannot forget
Refuse to regret
So glad I met you
Take my breath away
Make everyday
Worth all of the pain that I have
Gone through
And mama I’ve been cryin’
Cause things ain’t how they used to be
She said the battles almost won
And we’re only several miles from the sun
The rhythm of her conversation
The perfection of her creation
The sex she slipped into my coffee
The way she felt when she first saw me
Hate to love and love to hate her
Like a broken record player
Back and forth and here and gone
And on and on and on and on
But I cannot forget
Refuse to regret
So glad I met you
Take my breath away
Make everyday
Worth all of the pain that I have
Gone through
And mama I’ve been cryin’
Cause things ain’t how they used to be
She said the battles almost won
And we’re only several miles…
She said the battles almost won
And we’re only several miles from the sun

Sabtu, 13 April 2013

Pengalihan fungsi hutan mangrove rusak lingkungan

ada cerita di pulau sembilan............................pulau ini adalah kunjungan saya di semester 3, sungguh menyenangkan tapi mengecewakan... kenapa???
minusnya kebijakan lembaga DPRD dan Pemkab Langkat menyebabkan oknum-oknum tidak bertanggung jawab semakin leluasa merambah dan mengalih fu8ngsikan lahan Pulau Sembilan. Makanya, untuk aksi liar itu pihaknya minta ketegasan Pemkab Langkat dan Polri menyikapi secara tegas atas pelanggaran hukum dan perusakan hutan mangrove dan lainnya .Ratusan hektar hutan mangrove di Pulau Sembilan,  Kecamatan Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat dikabarkan telah dialihkan fungsinya menjadi ladang sawit.Saya melihat kerusakan hutan mangrove di Pangkalan Susu khususnya di Pulau Sembilan sudah semakin parah.terdapat 400 hektare lahan mangrove (bakau) yang telah dialihkan menjadi lahan sawit di Pulau Sembilan.Bila tidak secepatnya diselamatkan dikhawatirkan Pulau Sembilan akan `tenggelam` seperti Tapak Kuda Lama di Tanjungpura.

Rabu, 10 April 2013

SISTEM INFORMASI DALAM PERIKANAN DAN KELAUTAN

-->
Paper Sistem Informasi Sumberdaya Perairan              
           
PENGGUNAAN SISTEM INFORMASI PADA BIDANG PERIKANAN DAN KELAUTAN
Oleh :
Charolina Kaban
110302057


Pertanian



                                                        





SISTEM INFORMASI SUMBERDAYA PERAIRAN
MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2013

KATA PENGANTAR



            Puji dan syukur Penulis sampaikan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan karuniaNya Penulis dapat menyelesaikan paper Sistem Informasi Geografi yang berjudul “Penggunaan Sistem Informasi Dalam Perikana Dan Kelautan. Paper ini dibuat untuk membahas tentang sistem informasi dalam perikanan dan kelautan.
 Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada bapak Rusdi Leidonald SP, M.Sc dan Zulham Apandi Harahap S.Pi, M.Pi selaku dosen penanggung jawab Mata Kuliah Sistem Informasi Sumberdaya Perairan. Ucapan terima kasih juga Penulis sampaikan kepada rekan-rekan mahasiswa yang telah banyak memberikan masukan untuk paper ini.
Demikianlah paper ini dibuat dan semoga bermanfaat. Terima kasih.


                                                           
                                                                                     Medan,     Maret 2013


                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                     Penulis












DAFTAR ISI


DAFTAR ISI


LEMBAR PENGESAHAN............................................................................. i

KATA PENGANTAR..................................................................................... ii

DAFTAR ISI.....................................................................................................   iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang........................................................................................ 1
1.2  Tujuan......................................................................................................   2
1.3  Manfaat...................................................................................................   2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sistem Informasi Geografi.....................................................................   3
2.2Penggunaan Sistem Informasi Geografi bidang Perikanan.....................   5

BAB III STUDI KASUS
       3.1 Studi Kasus............................................................................................    7
BAB IV KESIMPULAN
4.1  Kesimpulan............................................................................................   11

DAFTAR PUSTAKA




















BAB I
PENDAHULUAN




1.1 Latar Belakang
Sistem Informasi Geografi (SIG) merupakan salah satu produk ilmu komputer yang paling mutahir saat ini. Pengertian tentang SIG itu sangat beragam. Hal ini sejalan dengan perkembangan SIG itu sendiri sejak pertama kali SIG dikembangkan oleh Tomlinson tahun 1967. Murray (1999) mengertikan SIG sebagai sistem informasi yang digunakan untuk memasukkan, menyimpan, memanggil kembali, mengolah, menganalisis dan menghasilkan data berefrensi geografis atau data geospital, untuk mendukung pengambilan keputusan dalam perencanaan dan pengolaan penggunaan lahan, sumber daya alam, lingkungan, transportasi, fasilitas kota, dan pelayanan umum lainnya (Budiyanto, 2002).
Geographic Information System (GIS) atau Sistem Informasi Geografis (SIG) sebagai suatu sistem yang berorientasi operasi secara manual, yang berkaitan dengan operasi pengumpulan, penyimpanan dan manipulasi data yang bereferensi geografi secara konvensional (Aini, 2007).
Sistem informasi adalah sekumpulan komponen yang saling berhubungan yang mengumpulkan, mengolah, menyimpan, dan menyeberkan informasi untuk pengambilan keputusan, koordinat, kontrol, analisis dan visualisasi dalam organisasi (Wahyuni,2009).
GIS (Geographic Information System) merupakan suatu alat yang dapat digunakan untuk mengelola (input, manajemen, proses dan output) data spasial atau data yang bereferensi geografis. Setiap data yang merujuk lokasi di permukaan bumi dapat disebut sebagai data spasial bereferensi geografis. Misalnya data kepadatan penduduk suatu daerah, data jaringan jalan, data vegetasi dan sebagainya (Maulana,2009).
Ikan dengan mobilitasnya yang tinggi akan lebih mudah dilacak disuatu area melalui teknologi ini karena ikan cenderung berkumpul pada kondisi lingkungan tertentu seperti adanya peristiwa upwelling, dinamika arus pusaran (eddy) dan daerah front gradient pertemuan dua massa air yang berbeda baik itu salinitas, suhu atau klorofil-a. Pengetahuan dasar yang dipakai dalam melakukan pengkajian adalah mencari hubungan antara spesies ikan dan faktor lingkungan di sekelilingnya. Dari hasil analisa ini akan diperoleh indikator oseanografi yang cocok untuk ikan tertentu. Sebagai contoh ikan albacore tuna di laut utara Pasifik cenderung terkonsetrasi pada kisaran suhu 18.5-21.5oC dan berassosiasi dengan tingkat klorofil-a sekitar 0.3 mg m-3. Selanjutnya output yang didapatkan dari indikator oseanografi yang bersesuaian dengan distribusi dan kelimpahan ikan dipetakan dengan teknologi SIG. Data indikator oseanografi yang cocok untuk ikan perlu diintegrasikan dengan berbagai layer pada SIG karena ikan sangat mungkin merespon bukan hanya pada satu parameter lingkungan saja, tapi berbagai parameter yang saling berkaitan. Dengan kombinasi SIG, inderaja dan data lapangan akan memberikan banyak informasi spasial misalnya dimana posisi ikan banyak tertangkap, berapa jaraknya antara fishing base dan fishing ground yang produktif serta kapan musim penangkapan ikan yang efektif. Tentu saja hal ini akan memberi gambaran solusi tentang pertanyaan nelayan kapan dan dimana bias mendapatkan banyak ikan (Zainudin,2006).

1.2 Tujuan
            Tujuan dilakukannya pembuatan aplikasi SIG dalam bidang kelautan dan perikanan :
  • Mengetahui ikan di laut berada dan kapan bisa ditangkap
  • jumlah yang berlimpah merupakan pertanyaan yang sangat biasa didengar.
  • Meminimalisir usaha penangkapan dengan mencari daerah habitat ikan, disisi biaya BBM yang besar, waktu dan tenaga nelayan
  • mengetahui area dimana ikan bisa tertangkap dalam jumlah yang besar

1.3 Manfaat
Salah satu alternatif yang menawarkan solusi terbaik adalah mengkombinasikan kemampuan SIG dan penginderaan jauh (inderaja) kelautan. Dengan teknologi inderaja faktor-faktor lingkungan laut yang mempengaruhi distribusi, migrasi dan kelimpahan ikan dapat diperoleh secara berkala, cepat dan dengan cakupa
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Sistem Informasi Geografi
SIG merupakan sebuah sistem yang saling berangkaian satu dengan yang lain. BAKOSURTANAL menjabarkan SIG sebagai kumpulan yang terorganisir dari perangkat keras komputer, perangkat lunak, data geografi, dan personel yang didesain untuk memperoleh, menyimpan, memperbaiki, memanipulasi, menganalisi, dan menampilkan semua bentuk informasi yang berefrensi geografis. Dengan demikian, basis analisis dari SIG adalah data spasial dalam bentuk digital yang diperoleh melalui data satelit atau data lain terdigitasi. Analisis SIG memerlukantenaga ahli sebagai interpreter, perangkat keras komputer, dan software pendukung (Budiyanto, 2002).
Perangkat keras yang mendukung untuk analisis geografi dan pemetaan sebenarnya tidak jauh berbeda dengan perangkat keras lainnya yang digunakan untuk mendukung aplikasi-aplikasi bisnis dan sains. Perbedaannya, jika ada, terletak pada kecenderungannya yang memerlukan perangkat (tambahan) yang dapat mendukung presentasi grafik dengan resolusi dan kecepatan yang tinggi, dan mendukung operasi-operasi basisdata yang cepat dengan volume data yang besar. Wyoming Geographic Information Advisory Council (WGIAC) telah membuat standar untuk perangkat keras (hardware) SIG (Anonymous, 2008).
Secara teknis SIG mengorganisasikan dan memanfaatkan data dari peta digital yang tersimpan dalam basis data. Dalam SIG, dunia nyata dijabarkan dalam data peta digital yang menggambarkan posisi dari ruang (space) dan klasifikasi, atribut data, dn hubungan antar item data. Kerincian data dalam SIG ditentukan oleh besarnya satuan pemetaan terkecil yang dihimpun dalam basis data. Dalam bahasa pemetan kerincian tergantung dari skala peta dan dasar acuan geografis yang disebut sebagai peta dasar (Budiyanto, 2002).
Sedangkan struktur data SIG ada dua macam yaitu vektor dan raster. Pada struktur data vektor posisi objek dicatat pada system koordinat. Sedangkan objek pada raster disimpan pada grid dua dimensi yaitu baris dan kolom. Data atribut atau tabular merupakan data yang menyimpan informasi mengenai nilai atau besaran dari data grafis. Untuk struktur data vektor, data atribut tersimpan secara terpisah dalam bentuk tabel. Sementara pada struktur data raster nilai data grafisnya tersimpan langsung pada nilai grid atau piksel (Suryadi, 2009).

2.2 Penggunaan Sistem Informasi dalam Bidang Perikanan dan Kelautan
Kebijakan pembangunan sektor kelautan perikanan Kabupaten Tanah Bumbu didasarkan pada pendekatan pembangunan yang diarahkan agar mampu memainkan peranan utama dalam perbaikan perekonomian daerah, dalam arti dapat memposisikan sebagai penggerak pembangunan ekonomi daerah dan membudayakan masyarakat pembudidaya ikan/nelayan agar mampu mandiri dalam melaksanakan usahanya. Yang meliputi ;
  1. Pemberdayaan Masyarakat dan Aparatur Kelautan dan Perikanan
  2. Pengembangan Teknologi Budidaya Perikanan, Teknologi Penangkapan Ikan dan Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan.
  3. Peningkatan Pengawasan dan Pengendalian terhadap Pemanfaatan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan.
  4. Peningkatan dan Pengembangan.Sarana dan Prasaran Kelautan dan Perikanan.
Adapun strategi yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Meningkatkan Kemampuan SDM Kelautan Perikanan
Pengembangan sumberdaya manusia pada sektor perikanan dan kelautan ditujukan tidak saja kepada pembudidaya ikan/nelayan atau masyarakat perikanan pada umumnya, tetapi juga termasuk pada aparat-aparat pembina perikanan dan kelautan itu sendiri. Pengembangan sumberdaya yang dilakukan, tidak hanya mencakup aspek teknis, seperti penciptaan Iptek, manajemen atau peningkatan keterampilan dan produktivitas, tetapi mencakup juga aspek yang lebih mendasar, yaitu peningkatan harkat, martabat dan kepercayaan terhadap diri sendiri, kemampuan berwira swasta serta tanggung jawab baik sebagai anggota keluarga, warga masyarakat ataupun pribadi mandiri. Oleh karena itu pembinaan terhadap pembudiya ikan/nelayan tidak hanya ditujukan kepada fungsi mereka sebagai faktor produksi atau tenaga kerja, tetapi juga kepada fungsi mereka sebagai sumberdaya insani yang memerlukan keseimbangan kesejahtraan rohani dan jasmani. Sedangkan terhadap  aparat pembina diharapkan akan tetap mau dan mampu meningkatkan pengetahuan, keterampilan serta wawasan sesuai perkembangan yang terjadi melalui berbagai kesempatan baik dalam negeri maupun di luar negeri.

2. Memanfaatkan Sumberdaya Kelautan Perikanan Secara Optimal, Efisien dan Berkelanjutan (Suistainable)
Potensi lahan  kelautan dan perikanan di Tanah Bumbu cukup besar dan  berpeluang untuk dikembangkan secara optimal tanpa mengganggu kelestariannya dengan tingkat efektifitasmelalui usaha ekstensifikasi, identifikasi, diverifikasi dan rehabilitasiserta dengan menggunakan teknologi tepat guna dan memberikan prioritas utama terhadap komoditas ekonomis penting serta komoditas unggulan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Disamping itu usaha pemgembangan kelautan perikanan juga memungkinkan untuk ekstensifikasi dengan mendorong kearah penangkapan jarak jauh serta pengembangan usaha budidaya laut pada lokasi potensial. Dalam hubungannya dengan pemanfaatan sumberdaya kelautan dan perikanan tetap berorientasi pada pembangunan perikanan yang ramah lingkungan serta mengutamakan kelestarian sumberdaya hayati. Selain itu juga perlu diarahkan untuk pencapaian produktifitas yang optimal, pemanfaatan secara rasional, peningkatan pendapatan serta pembangunan struktur usaha yang seimbang antara usaha skala besar maupun usaha kecil.

3. Meningkatkan Mutu Hasil Perikanan
Pembangunan kelautan dan perikanan merupakan salah satu kegiatan yang ekonomis dan mempunyai nilai strategis dan sangat prospektif. Hal ini mengingat kecendrungan semakin meningkatnya permintaan dunia akan  produk hasil perikanan . Sehubungan dengan meningkatnya permintaan tersebut  maka selain pencapaian target produksi, upaya peningkatan pengawasan mutu hasil perikanan juga merupakan faktor utama dalam meningkatkan hasil produksi. Langkah-langkah yang ditempuh oleh Dinas adalah penanganan dan pengolahan pasca panen yang dilaksanakan oleh petani ikan sesuai anjuran teknis serta peningkatan teknologi dan pemrosesan produk. Peningkatan akses pasar yang tidak hanya lokal tetapi juga nasional bahkan  internasional (distribusi ekspor) sesuai dengan jenis komoditas yang diusahakan dan diperlukan pasar.

4. Meningkatkan Pengawasan dan Pengendalian Sumber Daya Kelautan dan Perikanan
Pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya alam perlu dilaksanakan sesuai dengan peraturan pemerintah yang berlaku. Peraturan-peraturan di bidang kelautan dan perikanan lebih mengarah dalam upaya menjaga kelestarian sumberdaya kelautan perikanan, agar pelaksanaan sejalan dengan peraturan yang berlaku perlu adanya pengawasan dan pengendalian di lapangan. Dalam melaksanakan pengawasan dan pengendalian sebagai upaya penegakan peraturan di bidang kelautan dan perikanan, perlu didahului oleh pembinaan dan sosialisasi tentang hukum kepada pelaku usaha di bidang kelautan dan perikanan khususnya pembudidaya ikan dan nelayan serta masyarakat pada umumnya. Untuk lebih mengoptimalkan pengawasan, akan dilakukan pembinaan sistem pengawasan mandiri oleh masyarakat melalui penggalangan SISWASMAS (Sistem Pengawasan Masyarakat) dan POKWASMAS (Kelompok Pengawas Masyarakat).
5. Merehabilitasi Ekosistem Habitat pesisir, Laut, dan Perairan Umum
Potensi lahan kelautan dan perikanan Kabupaten Tanah Bumbu cukup besar dan berpeluang untuk dikembangkan dan dimanfaatkan secara optimal tanpa menggangu lingkungannya dengan mengutamakan kelestarian sumberdaya hayati. Dilakukan peningkatan rehabilitasi dan konservasi sumberdaya kelautan dan perikanan dengan cara mangrove (pohon bakau) di wilayah pesisir yang mengalami abrasi.

6. Meningkatkan Pembangunan Infrastruktur Dalam Rangka Pemanfaatan Sumberdaya Kelautan Perikanan
Dalam rangka peningkatan pengembangan kegiatan usaha kelautan perikanan yang turut berpengaruh terhadap pemasaran. Pembangunan infrastruktur dan rehabilitasi prasarana serta peningkatan sarana menjadi hal yang utama dalam rangka pemanfaatan sumberdaya kelautan perikanan.
7. Menciptakan Lapangan Kerja Baru Di Bidang Usaha Kelautan Perikanan
Adanya pertambahan penduduk dari tahun ke tahun akan mengakibatkan semakin sempitnya lahan pekerjaan di segala sektor. Dan selaras dengan komitmen Kabupaten Tanah Bumbu untuk menanggulangi penganguran maka Pembangunan Infrastruktur pada sektor Kelautan Perikanan sangat mendukung dalam menciptakan lapangan kerja baru.

8. Memberdayakan Sosial Ekonomi Masyarakat Kelautan dan Perikanan
Dilatarbelakangi oleh adanya kenyataan bahwa masyarakat pesisir merupakan masyarakat yang sangat tertinggal atau mempunyai pendapatan yang relatif rendah dan merupakan salah satu kelompok masyarakat yang  memiliki strata sosial terendah. Oleh karena itu Dana Penguatan Modal Perikanan adalah salah satu langkah awal dalam rangka peningkatan sosial ekonomi masyarakat kelautan perikanan.

9. Mengembangkan dan Memperkuat Sistem Informasi Kelautan Perikanan
Pengetahuan, Penguasaan dan Penerapan Teknologi terhadap masyarakat perikanan umumnya terbatas, oleh karena itulah peran Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Perikanan dalam hal ini sebagai media dalam mengembangkan dan memperkuat sistem informasi yang berguna dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, keterampilan, inovasi dan motivasi masyarakat perikanan, terutama dalam rangka meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan (Zainudin,2006).










BAB III
STUDI KASUS

http://amahabas.files.wordpress.com/2012/03/1.gif?w=630
Gambar 1. Aplikasi SIG dan inderaja dalam kegiatan penangkapan ikan tuna pada bulan November 2000 (resolusi semua layer citra = 9 Km) (Zainuddin, 2006).
Dua database (satelit dan perikanan tuna) dikombinasikan dalam mengembangkan spasial analysis daerah penangkapan ikan tuna. Pada prinsipnya ada 4 layer/lapisan data yang diintegrasikan yaitu suhu permukaan laut (SST) (NOAA/AVHRR), tingkat konsentrasi klorofil (SeaWiFS), perbedaan tinggi permukaan air laut (SSHA) dan eddy kinetik energi (EKE) (AVISO). Parameter pertama (SST) dipakai karena berhubungan dengan kesesuaian kondisi fisiologi ikan dan thermoregulasi untuk ikan tuna; sedangkan parameter yang kedua karena dapat menjelaskan tingkat produktifitas perairan yang berhubungan dengan kelimpahan makanan ikan; sementara parameter yang ketiga berhubungan dengan kondisi sirkulasi air daerah yang subur seperti eddy dan upwelling ; dan parameter terakhir berhubungan dengan indeks untuk melihat daerah subur dan kekuatan arus yang mungkin mempengaruhi distribusi ikan. Data penangkapan ikan tuna (lingkaran putih pada peta yang ditunjukkan dengan tanda panah) diplot pada peta lingkungan yang dibangkitkan dari citra satelit. Sedangkan panel atau layer yang paling atas menunjukkan peta prediksi hasil tangkapan.
Gambar 1 memberi informasi bahwa ikan tuna tertangkap dalam jumlah yang besar (terkonsentrasi) pada posisi sekitar 35oLU dan 160oBT bersesuaian dengan kondisi SST sekitar 20oC dan berassosiasi dengan tingkat klorofil-a sekitar 0.3 mg m-3. Konsentrasi ikan tersebut berada pada posisi positif anomaly permukaan laut (warna merah) yang bertepatan dengan kondisi EKE yang relatif lebih tinggi. Dari Gambar itu terlihat bahwa prediksi hasil tangkapan dengan peluang yang tinggi (dikenal dengan istilah habitat hotspot) juga menkonfirmasi daerah produktif tersebut. Setiap spesies ikan mempunyai karakteristik oseanografi kesukaannya sendiri dan cenderung menempati daerah tertentu yang bisa dipelajari. Hal ini dapat diketahui dengan pendekatan SIG dan inderaja multi-layer tersebut.
Contoh lain aplikasi SIG di selatan pulau Hokkaido, Jepang dapat dilihat pada Gambar 2 berikut ini. Peta ini menunjukkan berbagai informasi spasial yang bisa kita pahami tentang perikanan tangkap di sekitar pulau tersebut, khususnya perikanan cumi-cumi. Disni peta SIG menggambarkan dimana posisi pelabuhan perikanan (fishing port), jarak antara fishing ground (daerah penangkapan) dan pelabuhan, distribusi hasil tangkapan, jumlah kapal yang tersedia. Dari informasi ini dapat dilihat bahwa distribusi musiman daerah penangkapan, hasil tangkapan dan jumlah kapal penangkap akan menghasilkan informasi tentang jalur migrasi spesies cumi-cumi tersebut yaitu cenderung ke utara pada bulan Juni dan kembali ke selatan pada bulan November.
http://amahabas.files.wordpress.com/2012/03/3.jpg?w=630
Gambar 2. Peta distribusi daerah penangkapan cumi-cumi dan jumlah kapal dan hasil tangkapannya di sekitar pulau Hokkaido, Jepang pada bulan Juni (kiri) dan November (kanan) (Zainudin,2006).
BAB IV
KESIMPULAN

Adapun kesimpulan dari Penggunaan Sistem Informasi pada Bidang Perikanan dan Kelautan adalah :
1.        Sumber data untuk keperluan SIG dapat berasal dari data citra, data lapangan, survey kelautan, peta, sosial ekonomi, dan GPS. Selanjutnya diolah di laboratorium atau studio SIG dengan software tertentu sesuai dengan kebutuhannya untuk menghasilkan produk berupa informasi yang berguna, bisa berupa peta konvensional, maupun peta digital sesuai keperluan user, maka harus ada input kebutuhan yang diinginkan user.
2.        Pengetahuan dasar yang dipakai dalam melakukan pengkajian adalah mencari hubungan antara spesies ikan dan faktor lingkungan di sekelilingnya. Dari hasil analisa ini akan diperoleh indikator oseanografi yang cocok untuk ikan tertentu.
3.        Dengan kombinasi SIG, inderaja dan data lapangan akan memberikan banyak informasi spasial misalnya dimana posisi ikan banyak tertangkap, berapa jaraknya antara fishing base dan fishing ground yang produktif serta kapan musim penangkapan ikan yang efektif. Tentu saja hal ini akan memberi gambaran solusi tentang pertanyaan nelayan kapan dan dimana bias mendapatkan banyak ikan.







                                                                             

DAFTAR PUSTAKA
Aini, A. 2007.  Sistem Informasi Geografi.http://www.p3m.amikom.ac.id.
( diakses pada tanggal 22 Maret 2013).

Anonymous. 2008. Pengenalan Arc View. http://www.bpdasctw.info.com.
( diakses pada tanggal 22 Maret 2013).

Budiyanto, E. 2009. Arc View GIS. Abdi Karya, Yogyakarta.

Maulana, R. 2009. Arcview GIS. http://eprints.undip.ac.id.
( diakses pada tanggal 22 Maret 2013).

Suryadi, S. 2009. Modul Praktikum Sistem Informasi Geografis. http://staff.uny.ac.id.
( diakses pada tanggal 22 Maret 2013).

Wahyuni, R. S. 2009. Sistem Informasi Geografis. http://library.binus.ac.id.
( diakses pada tanggal 22 Maret 2013).

Zainudin, Mukti. 2006. Penggunaan Sistem Informasi Geografi Bidang Perikanan dan Kelautan. http://regional.coremap.or.id,
(diakses pada tanggal 28 Maret 2013).